Kamis, Januari 22, 2026
Berita Nasional

Cinta NKRI, Kemenag Terus Dampingi Pesantren Eks Jamaah Islamiyah

Jakarta (Kemenag) — Direktorat Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) membina sejumlah pesantren eks Jamaah Islamiyah (JI). Mereka telah menyatakan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Pembinaan ini menjadi bagian dari upaya penguatan moderasi beragama dan penguatan wawasan kebangsaan, dan terus memupuk rasa cinta NKRI. Direktur Pesantren Basnang Said menjelaskan bahwa langkah pembinaan ini merupakan tindak lanjut dari pendekatan persuasif dan edukatif yang dilakukan Kemenag bersama aparat keamanan dan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, pendekatan kemanusiaan dan pendidikan terbukti efektif membantu proses reintegrasi sosial pesantren eks JI agar kembali aktif berkontribusi positif bagi bangsa.

“Kami tidak menstigma, tetapi mendampingi. Mereka adalah bagian dari umat dan bangsa ini. Kemenag hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membina, merangkul, dan memfasilitasi agar nilai-nilai keislaman yang mereka ajarkan tetap sejalan dengan semangat kebangsaan dan kemanusiaan,” ujar Basnang Said.

Sebagai bagian dari pendampingan, Kemenag membersamai mereka dalam Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2025. Upacara ini diselenggarakan para santri, pengasuh, dan masyarakat sekitar di beberapa pesantren, antara lain:

1. Pesantren Al Muttaqin Jepara (744 santri)
2. Pesantren Miftahul Huda Boyolali (345 santri)
3. Pesantren Baitussalam Semarang (195 santri) 
4. Pesantren Darur Robbani Kab. Semarang (340 santri)
5. Pesantren Al Ikhlash Lamongan (235 santri)
6. PPTQ At-Taqwa Nguter Sukoharjo (178 santri)

7. PPTQ Ulul Albab Sukoharjo (770 santri)
8. Pesantren Miftahul Huda Al-Ulya Sragen (188 santri) 
9. Pesantren Nurul Huda Purbalingga (263 santri) 
10. Pesantren Nurul Hadid Cirebon (638 santri)
11. Pesantren Ar-Rohmah Ngawi (300 santri) 
12. Pesantren Haji Miskin Kab. Tanah Datar (164 santri)

13. Pesantren Ibnu Masud Lombok Timur 
14. PPI Ulul Albab Lampung Selatan (250 santri)
15. Pesantren Al Muhsin Kota Metro (400 santri) 
16. Pesantren Imtaq Al Muaddib Cilacap (67 santri) 
17. Pesantren Nurul Huda Luwu Utara (304 santri)

Pesantren tersebut mengikuti upacara dengan penuh khidmat, mengenakan seragam merah putih, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama-sama. Momentum itu, menurut Basnang, menjadi simbol kembalinya semangat cinta tanah air di kalangan mereka. 

“Melihat para santri berdiri tegak menyanyikan Indonesia Raya adalah momen yang sangat mengharukan. Ini bukti bahwa nilai nasionalisme dapat tumbuh kembali melalui pendekatan dialog dan pendampingan yang berkesinambungan,” tambahnya.

Kemenag juga memfasilitasi pelatihan manajemen kelembagaan, kurikulum pesantren, dan moderasi beragama bagi para pengasuh dan santri. Program ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas pesantren eks JI sebagai lembaga pendidikan Islam yang produktif, inklusif, dan kontributif terhadap masyarakat.

Selain itu, Direktorat Pesantren menggandeng ormas Islam dan pesantren besar lain untuk berbagi pengalaman tentang praktik moderasi dan kehidupan berbangsa di tengah kemajemukan. “Kami ingin memastikan bahwa setiap pesantren memiliki peran aktif dalam menjaga keutuhan NKRI dan membangun generasi santri yang cinta damai, toleran, serta berwawasan kebangsaan,” jelas Basnang.

Menurut Basnang, langkah Kemenag ini diapresiasi oleh berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan aparat setempat, yang menilai pendekatan pembinaan yang bersifat edukatif dan dialogis jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan represif. Dengan semangat merangkul, bukan memukul, Kemenag berharap pesantren eks jamaah Islamiyah dapat menjadi contoh keberhasilan reintegrasi sosial dan transformasi pesantren menuju pusat pendidikan Islam yang moderat dan berdaya saing. (kemenag. go.id/tnf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

♿ Aksesibilitas