Guru BK MAN 3 Sleman Serap Semangat Demokrasi dari Para Tokoh Nasional di UII

Kemenag Sleman News (MAN 3 Sleman) – Guru BK MAN 3 Sleman, Nia Anggela berpartisipasi aktif dalam kegiatan “School of Democracy and Diversity” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Universitas Islam Indonesia (UII) pada Senin-Selasa (3-4/11/2025) di De Laxston Hotel, Yogyakarta.
Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru SMA, SMK, dan MA se-DIY sebagai wadah pembelajaran dan dialog tentang pentingnya menumbuhkan nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan keberagaman di lingkungan sekolah.
Pada hari pertama, Prof. Mahfud MD membuka kegiatan dengan materi “Prinsip dan Urgensi Demokrasi.” Beliau menekankan pentingnya menanamkan nilai demokrasi sejak dini melalui keteladanan dan budaya sekolah. “Sekolah adalah ruang terbaik untuk menumbuhkan nilai-nilai demokrasi kejujuran, musyawarah, dan penghargaan terhadap perbedaan,” ujar Mahfud.

Selanjutnya, Prof. Yusdani membawakan materi tentang pentingnya memahami keberagaman dan menumbuhkan sikap toleransi di tengah masyarakat majemuk. Materi dilanjutkan oleh Dr. Suparman Marzuki, mantan Ketua Komisi Yudisial, menyampaikan materi “Menggali Hak-Hak Dasar Manusia” dan menegaskan bahwa setiap individu memiliki kedudukan yang sama tanpa membedakan suku, ras, adat, maupun agama.
Pada malam harinya, Rektor UII Prof. Fathul Wahid menyampaikan materi “Literasi Digital di Era Media Sosial.” Ia mengingatkan pentingnya pendampingan siswa agar bijak bermedia sosial dan terhindar dari perilaku negatif seperti cyberbullying.
“Guru dan sekolah harus menjadi benteng pertama dalam membimbing siswa menghadapi dunia digital,” pesannya.

Hari kedua diisi dengan refleksi bersama dan diskusi kelompok. Para guru membahas isu-isu aktual di sekolah seperti toleransi beragama, kekerasan seksual, perlindungan data pribadi dan anak, disabilitas, serta bullying. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan solusi konkret yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Kegiatan ditutup oleh Prof. Masduki, Ketua PSAD UII, yang menegaskan bahwa program ini merupakan awal dari gerakan nyata untuk menumbuhkan semangat demokrasi di dunia pendidikan. “Kami berharap guru-guru menjadi agen perubahan yang menebarkan nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan toleransi di sekolah,” tuturnya.
Nia mengaku mendapat banyak inspirasi. Kegiatan ini membuka wawasan baru, khususnya bagi guru BK dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, empati, dan berpikir kritis kepada siswa.
“Kami jadi semakin sadar pentingnya membimbing siswa agar bisa menghargai perbedaan dan berpikir kritis terhadap isu sosial di sekitar mereka,” ujarnya.
Dengan keikutsertaan guru MAN 3 Sleman dalam kegiatan ini, madrasah berkomitmen untuk terus memperkuat budaya demokratis, sikap toleran, dan penghargaan terhadap keberagaman di lingkungan pendidikan Islam yang moderat dan inklusif. (nia)
