Belajar Sejarah dan Budaya Bali, Siswa MAN 3 Sleman Ikuti Edukasi Lapangan di Tanah Lot

Kemenag Sleman News (MAN 3 Sleman) — Seluruh peserta kegiatan Gelar Pengenalan Lingkungan dan Observasi Kampus Impian (GALAKSI) dari MAN 3 Sleman mengikuti kegiatan edukatif di kawasan wisata budaya Tanah Lot, Bali, pada Selasa (20/1/2026). Kegiatan ini dirancang sebagai pembelajaran kontekstual untuk mengenalkan sejarah, budaya, dan kearifan lokal Bali secara langsung kepada para siswa.
Kegiatan edukasi lapangan ini dipandu oleh pemandu wisata lokal asli Bali, salah satunya Novi, yang memberikan penjelasan mengenai sejarah berdirinya Tanah Lot, nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Bali, serta peran Tanah Lot sebagai salah satu situs penting dalam perjalanan sejarah dan peradaban Bali.
Secara historis, Tanah Lot merupakan salah satu pura laut (pura segara) yang memiliki peran penting dalam sistem spiritual masyarakat Hindu Bali. Tanah Lot diyakini berkaitan erat dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha (Dang Hyang Dwijendra), seorang tokoh penyebar agama Hindu di Bali pada abad ke-16. Menurut sejarah dan cerita rakyat setempat, Dang Hyang Nirartha memilih lokasi ini sebagai tempat bertapa dan membangun tempat suci karena kekuatan spiritualnya.
Nama Tanah Lot sendiri berasal dari kata tanah yang berarti daratan dan lot atau lod yang berarti laut, merujuk pada posisi pura yang berada di atas batu karang besar di tengah laut. Hingga kini, Tanah Lot tidak hanya menjadi ikon wisata Bali, tetapi juga simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan nilai spiritual.

Dalam penjelasannya, Novi menegaskan bahwa Tanah Lot tidak sekadar destinasi wisata, melainkan kawasan suci yang harus dihormati.
“Tanah Lot bukan hanya tempat wisata, tetapi juga situs suci yang sarat dengan nilai sejarah, budaya, dan spiritual. Di sini kita belajar tentang harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan yang menjadi filosofi hidup masyarakat Bali,” ujar Novi.
Selama kegiatan berlangsung, siswa MAN 3 Sleman terlihat antusias mengikuti penjelasan, mengamati langsung lingkungan sekitar, serta berdiskusi mengenai sejarah dan tradisi Bali. Edukasi di luar kelas ini memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata dan bermakna bagi para peserta. Salah satu siswa MAN 3 Sleman menyampaikan kesan positifnya terhadap kegiatan tersebut.
“Belajar langsung di Tanah Lot membuat saya lebih memahami sejarah dan budaya Bali. Penjelasannya menarik dan membuka wawasan kami bahwa tempat wisata juga memiliki nilai pendidikan yang sangat besar,” ungkapnya.
Kegiatan edukatif di Tanah Lot ini diikuti oleh seluruh peserta GALAKSI 2026, sebagai bagian dari komitmen MAN 3 Sleman dalam menghadirkan pembelajaran yang holistik, tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada penguatan wawasan kebudayaan, toleransi, dan kecintaan terhadap keberagaman Indonesia. (fiq)
