Dakwah Membumi, Penyuluh KUA Ngaglik Dampingi Nyadran Serentak

Kemenag Sleam News (KUA Ngaglik) — Menguatkan harmoni antara tradisi dan nilai keislaman, KUA Ngaglik menerjunkan para Penyuluh Agama Islam dalam pendampingan budaya religi nyadran pada bulan Syakban atau bulan Ruwah, Ahad (8/2/2026).
Kegiatan ini selaras dengan Asta Cita Presiden dalam memperkokoh harmoni sosial dan pelestarian budaya bangsa, sekaligus menguatkan nilai Asta Protas Menteri Agama pada penguatan moderasi beragama dan layanan keagamaan yang menyentuh akar rumput.
Pendampingan dilakukan serentak di sejumlah kalurahan di Kapanewon Ngaglik. Di Kalurahan Sukoharjo, tradisi nyadran berlangsung di Padukuhan Nglengkong. Sementara di Kalurahan Sinduharjo, doa bersama digelar di Makam Gentan. Adapun di Kalurahan Sariharjo, kegiatan nyadran serentak dilaksanakan di Makam Girikarto Kamdamen serta di sejumlah padukuhan seperti Ngetiran, Gondanglegi, Sumberan, Krikilan, Mudal, Wonorejo, dan Waras.
Kehadiran penyuluh agama di tengah masyarakat menjadi wujud nyata pelayanan keagamaan yang inklusif dan membumi. Tidak sekadar mendampingi prosesi doa bagi leluhur, para penyuluh juga menguatkan pemahaman keagamaan agar tradisi tetap berjalan selaras dengan nilai-nilai syariat Islam.
Kepala KUA Ngaglik, H. Handoyo, S.Ag, menegaskan bahwa keterlibatan penyuluh merupakan bagian dari komitmen pelayanan keagamaan berbasis kultural.
“Penyuluh Agama Islam terus berupaya mendekatkan diri dengan seluruh elemen masyarakat di enam kalurahan Kapanewon Ngaglik. Tradisi nyadran ini bukan hanya melestarikan budaya Jawa, tetapi juga momentum meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT,” ujarnya.
Pembagian tugas penyuluh dilakukan secara terstruktur. Wahyu Nurul Ilmiyati bertugas di Sariharjo; Tarwadi, dan Syaiful Ghozi di Sardonoharjo; Masropin di Minomartani; Sakhirin, di Sukoharjo; serta Agus Muh. As Ali Ismiyanto, di Sinduharjo.
Salah satu penyuluh yang terjun di lapangan menyampaikan bahwa pendekatan kultural menjadi kunci keberhasilan dakwah di tengah masyarakat.
Nurul Ilmiyati menyatakan “Nyadran menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan nilai religius. Tugas kami memastikan tradisi berjalan dengan tuntunan doa dan zikir yang benar, sehingga budaya tetap lestari dan akidah tetap terjaga,” ungkap Sakhirin, SHI.
Melalui pendampingan ini, KUA Ngaglik berharap kegiatan keagamaan di wilayah binaan semakin hidup dan berdampak. Dakwah yang menyapa tradisi menjadi wajah pelayanan Kementerian Agama yang adaptif, moderat, dan hadir membersamai masyarakat hingga ke tingkat padukuhan. (isa)
