Minggu, Februari 15, 2026
Berita Madrasah

Guru MAN 5 Sleman Ikuti MGMP Sejarah, Perdalam Modul Ajar Kurikulum Berbasis Cinta

Kemenag Sleman News (MAN 5 Sleman) — Guru Sejarah MAN 5 Sleman mengikuti kegiatan MGMP Sejarah MA yang diselenggarakan pada Selasa, 10 Februari 2029, bertempat di MAN 3 Sleman. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.30 WIB dan diikuti oleh guru-guru sejarah Madrasah Aliyah se-DIY.

Agenda utama kegiatan MGMP kali ini adalah pelatihan penyusunan Modul Ajar Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Kuncoro Hadi, M.A., dosen Program Studi Ilmu Sejarah FISIP Universitas Negeri Yogyakarta, serta Heni Prilantari, S.Pd., M.Pd., pengawas Madrasah Aliyah Kabupaten Bantul.

​

Dari MAN 5 Sleman, kegiatan ini diikuti oleh Minda Herlina, S.Pd., Fu’adida Nur Aini, dan Khasanah Hidayati, S.Pd. Kehadiran para guru tersebut menjadi bagian dari upaya madrasah untuk terus meningkatkan kompetensi pendidik, khususnya dalam pengembangan pembelajaran sejarah yang relevan dengan kebijakan kurikulum terbaru.

Dalam materi yang disampaikan, Heni Prilantari menekankan pentingnya Kurikulum Berbasis Cinta yang berlandaskan nilai cinta pada diri sendiri dan cinta kepada sesama. Melalui KBC, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran dengan pendekatan penuh empati, mengedepankan prasangka baik, serta memahami dan menangani permasalahan seperti perundungan di lingkungan sekolah secara bijak dan humanis.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Kuncoro Hadi, M.A., yang mengajak guru sejarah untuk lebih kreatif dalam mengangkat sejarah lokal. Menurutnya, sejarah tidak hanya bersumber dari buku teks, tetapi juga dapat digali melalui memori kolektif dan tradisi lisan yang hidup di masyarakat sekitar. Guru sejarah didorong untuk melihat peristiwa sejarah dari berbagai perspektif agar pembelajaran menjadi lebih kaya, kritis, dan bermakna bagi peserta didik.

Melalui kegiatan MGMP Sejarah ini, guru MAN 5 Sleman memperoleh wawasan baru dalam menyusun modul ajar yang tidak hanya berorientasi pada capaian materi, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Diharapkan, hasil pelatihan ini dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas sehingga sejarah menjadi mata pelajaran yang inspiratif, kontekstual, dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. (AR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

β™Ώ Aksesibilitas