Sabtu, Januari 24, 2026
Berita Madrasah

Merawat Tradisi di Tengah Modernisasi: Pengalaman Siswa MAN 3 Sleman di Desa Panglipuran

Kemenag Sleman News (MAN 3 Sleman) – Dalam rangka penguatan pembelajaran berbasis budaya dan kearifan lokal, siswa MAN 3 Sleman melaksanakan kunjungan edukatif ke Desa Wisata Panglipuran, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, pada Rabu (21/1/2026), pukul 10.00–11.30 WITA. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program GALAKSI 2026, yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar kontekstual melalui interaksi langsung dengan lingkungan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Desa Wisata Panglipuran dikenal sebagai salah satu desa wisata unggulan di Bali yang secara konsisten mempertahankan kebersihan lingkungan, keteraturan tata ruang, serta kelestarian adat dan tradisi. Karakteristik tersebut menjadikan desa ini sebagai contoh praktik keberlanjutan budaya (cultural sustainability) yang relevan untuk pembelajaran peserta didik di tengah dinamika modernisasi.

Secara sosio-kultural, Desa Panglipuran termasuk dalam komunitas Bali Aga, yakni kelompok masyarakat Bali asli yang dikenal memiliki komitmen kuat terhadap pelestarian tradisi leluhur. Desa ini telah berkembang sejak ratusan tahun lalu dan mempertahankan sistem sosial berbasis adat yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu manifestasi nilai tersebut terlihat pada arsitektur rumah adat dan pola permukiman yang seragam, yang mencerminkan prinsip kesetaraan sosial, keteraturan, dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.

Selain nilai budaya dan historis, Desa Panglipuran juga dipilih sebagai lokasi kunjungan edukatif karena aksesibilitasnya yang relatif baik, sehingga memungkinkan kunjungan rombongan pelajar dengan fasilitas transportasi yang memadai. Faktor ini mendukung efektivitas kegiatan pembelajaran lapangan tanpa mengurangi substansi edukatif yang ingin dicapai.

Guru pendamping, Hasti Budiyaningrum, menilai bahwa kunjungan ini memberikan pengalaman belajar yang relevan bagi siswa.

“Desa Panglipuran menghadirkan lingkungan yang sejuk, bersih, dan menunjukkan kearifan lokal yang sangat kental. Kondisi ini menjadi contoh konkret bagaimana nilai tradisi dapat tetap terpelihara dan beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Dari sisi peserta didik, kunjungan ini juga memberikan kesan reflektif. Salah satu siswi, Lintang Wijaya Putri, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memperluas pemahamannya tentang hubungan antara budaya dan lingkungan.

“Melalui kunjungan ini saya memahami bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap lingkungan dan tata kehidupan masyarakat,” tuturnya.

Melalui kegiatan kunjungan ke Desa Wisata Panglipuran, siswa MAN 3 Sleman memperoleh pembelajaran autentik mengenai pentingnya pelestarian budaya, keberlanjutan lingkungan, serta penghargaan terhadap warisan leluhur sebagai bagian integral dari identitas bangsa. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran kritis siswa dalam memandang modernisasi secara seimbang dengan nilai-nilai tradisi. (raf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

♿ Aksesibilitas