Kakankemenag Sleman Dampingi Kakanwil, Dukungan Penuh Gereja Warnai Program Rumah Ibadah Ramah Pemudik 2026

Kemenag Sleman News — Menjelang mudik Idulfitri 2026, Kakankemenag Sleman H. Nadhif mendampingi Kakanwil Kemenag DIY H. Ahmad Bahiej meninjau kesiapan program Rumah Ibadah Ramah Pemudik di Gereja Katolik Santo Aloysius Gonzaga Mlati, Kamis (19/3/2026).
Kunjungan ini merupakan bagian dari monitoring rumah ibadah lintas agama di sejumlah titik strategis DIY, seperti GKJ Paliyan, Masjid Nurul Huda Temon, dan POB Syekh Bela Belu Parangtritis.
Di Sleman, Gereja Katolik Santo Aloysius Gonzaga Mlati disiapkan sebagai titik singgah bagi pemudik dan musafir. Kunjungan rombongan disambut hangat oleh Romo Paroki Marcelinus Roselawanto bersama pengurus gereja dan unsur Forkopimda.
Dalam sambutannya, Romo Marcelinus menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. Ia menegaskan kesiapan gereja untuk berkontribusi dalam pelayanan kemanusiaan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan ini. Semoga gereja ini dapat memberikan pelayanan terbaik sebagai tempat istirahat sejenak bagi para pemudik, sekaligus memperkuat kerja sama yang telah terjalin,” ujarnya.
Senada, Ketua Dewan Bidang Kemasyarakatan, Joko Sumarah, menyambut positif program tersebut sebagai wujud nyata persaudaraan lintas iman.
“Program ini mencerminkan kuatnya kebersamaan antar umat beragama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Kakanwil Kemenag DIY H. Ahmad Bahiej menegaskan bahwa program Rumah Ibadah Ramah Pemudik merupakan bagian dari upaya menghadirkan layanan keumatan yang lebih luas dan inklusif.
“Pemudik datang dari berbagai latar belakang agama. Ketika mereka membutuhkan tempat singgah, rumah ibadah diharapkan hadir sebagai ruang istirahat yang layak, nyaman, dan terbuka bagi semua,” jelasnya.
Program ini menjadi simbol kuat sinergi dan harmoni lintas agama di Sleman. Kakankemenag H. Nadhif menegaskan, rumah ibadah tak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pelayanan kemanusiaan
“Ini adalah wujud nyata bahwa rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat peribadatan, tetapi juga pusat pelayanan kemanusiaan,” tegasnya.

Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, pengelola rumah ibadah, dan seluruh elemen masyarakat, program Rumah Ibadah Ramah Pemudik 2026 diharapkan mampu memberikan pengalaman mudik yang lebih aman, nyaman, sekaligus mempererat tali persaudaraan dalam bingkai keberagaman. (isa)
