Moderasi Beragama Warnai Hari Pertama MATMAVESA 2026: Murid Dibekali Nilai Toleransi dan Kebangsaan
Kankemenag Sleman News (MAN 5 Slm) — Hari pertama Masa Ta’aruf Murid MAN 5 Sleman (MATMAVESA) Tahun Ajaran 2026/2027 pada Senin (13/7/2026) diisi dengan kegiatan edukatif yang sarat nilai kebangsaan dan toleransi. Bertempat di aula madrasah, para peserta mendapatkan materi Moderasi Beragama untuk Pelajar yang disampaikan oleh Drs. B. Belariantata, S.Ag., M.M., Ketua Bidang Dialog Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sleman.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan, dilanjutkan dengan pemaparan mengenai definisi dan makna keseimbangan dalam beragama. Dalam materinya, narasumber menekankan pentingnya empat pilar moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, serta penerimaan terhadap tradisi lokal.
Belariantata juga menjelaskan urgensi moderasi beragama bagi siswa madrasah. “Siswa MAN 5 harus kuat dalam iman, luas dalam wawasan, dan lembut dalam sikap. Itulah kunci menjadi generasi yang mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia memberikan contoh penerapan moderasi beragama di lingkungan sekolah, seperti saling menghargai perbedaan, tidak melakukan perundungan (bullying), serta menghormati hari besar keagamaan. Ia juga menegaskan peran FKUB Sleman dalam membangun dialog lintas agama.

“Berbeda itu anugerah, rukun itu keharusan. FKUB Sleman hadir untuk memperkuat dialog, mencegah konflik, dan menjaga kerukunan di masyarakat, termasuk di lingkungan sekolah,” tegasnya, menutup sesi dengan pesan “Salam damai, rukun, dan bahagia.” pungkas Belariantata.
Para peserta MATMAVESA tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka aktif menyimak materi dan menunjukkan semangat dalam memahami pentingnya moderasi beragama sejak dini.
Kepala MAN 5 Sleman, Mucharom, S.Ag., M.S.I., dalam keterangannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menekankan bahwa moderasi beragama menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter siswa.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki sikap toleran, menghargai perbedaan, serta mampu menjadi agen perdamaian di lingkungan madrasah maupun masyarakat,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa indikator keberhasilan dari penerapan nilai moderasi beragama di madrasah dapat dilihat dari terciptanya lingkungan yang harmonis.
“Tidak ada bullying, semua hari besar agama dihargai bersama, dan siswa mampu menjadi agen perdamaian. Itulah yang ingin kita wujudkan bersama,” tambahnya.
Dengan pembekalan ini, diharapkan seluruh peserta MATMAVESA 2026 mampu menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah. (nh/dpj)
