Minggu, Agustus 30, 2026
Berita Kemenag

IPARI Sleman Gelar Seni Budaya Kerukunan Umat Beragama Bangun Manusia Sejati

Kankemenag Sleman News (Humas) –Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Sleman terus mendorong penguatan moderasi beragama dan kerukunan umat melalui pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui Gelar Seni dan Budaya Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sleman 2026,  yang mempertemukan segenap penyuluh agama lintas agama dalam ruang kebersamaan, dialog, dan ekspresi budaya.

Kegiatan tahunan yang digelar PD IPARI Kabupaten Sleman tersebut berlangsung di SMK As-Syafi’i, Selasa (11/8/2026). Mengusung tema “Dengan Gelar Seni dan Budaya Kita Mantapkan Kerukunan Umat Beragama untuk Membangun Manusia yang Sejati” kegiatan diikuti anggota IPARI lintas agama se-Kabupaten Sleman, Pokjaluh/Pokbin masing-masing agama, unsur pondok pesantren, serta tokoh agama dan pemangku kepentingan lainnya.

Kepala Kantor Kemenag SlemanH. Nadhif, S.Ag., M.S.I. mengapresiasi inisiatif IPARI yang menjadikan seni dan budaya sebagai medium memperkuat kerukunan. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan kehidupan beragama saat ini, terutama dalam membangun kesadaran bahwa toleransi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bersama dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Saya ikut bahagia dan berterima kasih atas inisiatif kegiatan ini. Gelar seni budaya menjadi metode yang keren, relevan, dan relatif lebih familiar bagi generasi muda maupun masyarakat. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti pada pertunjukan seni, tetapi berlanjut pada pemahaman dan penguatan nilai-nilai moderasi beragama serta membekali para penyuluh agar semakin hadir di tengah masyarakat,” ujar Nadhif.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki keragaman agama, budaya dan tradisi yang menjadi kekuatan sekaligus membutuhkan pengelolaan secara bijaksana. Dalam konteks tersebut, penyuluh agama di tengah masyarakat memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan, membangun dialog, serta merawat persatuan.

Di sisi lain, Nadhif menyoroti tantangan baru yang dihadapi penyuluh agama di era digital. Aksesibilitas dan pola komunikasi masyarakat telah berubah, sehingga penyuluh dituntut mampu menghadirkan pesan-pesan keagamaan melalui media dan pendekatan yang sesuai dengan karakter masyarakat saat ini.

“Tantangan penyuluh hari ini bukan hanya bagaimana pesan disampaikan, tetapi bagaimana pesan itu dapat didengar, hadir, dan mendapatkan simpati masyarakat. Karena itu, kreativitas dalam membangun komunikasi menjadi penting,” tegasnya.

Gelar Seni dan Budaya IPARI juga menjadi ruang kolaborasi lintas agama. Dalam kepengurusan IPARI Kabupaten Sleman terdapat empat bidang yang menopang penguatan peran penyuluh, yakni Bidang Moderasi Beragama, Seni dan Budaya, Sumber Daya Manusia, serta Pengabdian Masyarakat.

Keempat bidang tersebut diarahkan untuk memperkuat eksistensi penyuluh agar semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh pemuka lintas agama dan unsur pemerintahan, di antaranya Ketua FKUB Yulianinongo tokoh lintas agama seperti Romo Bela Riantata dan Pendeta Bakoh Jatmiko serta Drs. Untung Waluyo sebagai narasumber. Hadir pula utusan yang mewakili Kapolresta Sleman.

Sementara itu, Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Kesejahteraan Rakyat, Samsul Bakri, S.IP., M.M.,  menyampaikan sambutan Bupati Sleman, memberikan apresiasi atas kegiatan tersebut. Menurutnya, kerukunan merupakan modal sosial sekaligus fondasi penting bagi pembangunan masyarakat Sleman secara utuh.

“Perbedaan suku, agama, dan ras bukan alasan untuk tidak bergerak bersama. Kerukunan adalah modal sosial dan fondasi pembangunan masyarakat Sleman seutuhnya,” ujarnya.

Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur sosial harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur fisik. Pemahaman moderasi beragama yang tepat, menurutnya, akan melahirkan kehidupan sosial yang indah melalui sikap saling menghargai hak orang lain.

“Sleman adalah masyarakat yang sangat kompleks dan dinamis. Mari kita jaga Sleman sebagai rumah bersama dengan sikap terbaik untuk kita semua,” pesannya.

Samsul juga mengingatkan masyarakat agar semakin bijak menghadapi derasnya arus informasi. Kecepatan informasi saat ini sering kali lebih tinggi dibandingkan kesempatan masyarakat untuk melakukan verifikasi. Karena itu, budaya tabayun perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum teruji kebenarannya.

Gelar Seni dan Budaya IPARI kemudian diisi berbagai penampilan seni lintas agama dan budaya. Kehadiran seni menjadi jembatan komunikasi yang memungkinkan nilai-nilai moderasi, toleransi, dan persaudaraan disampaikan dengan cara yang lebih humanis dan mudah diterima masyarakat. (isa/dpj)

4 komentar pada “IPARI Sleman Gelar Seni Budaya Kerukunan Umat Beragama Bangun Manusia Sejati

  • Ristiani Suwastini

    Mantap 😊😊😊

    Balas
    • dian_pjPenulis Pos

      Terima kasih supportnya…

      Balas
    • dian_pjPenulis Pos

      Matur nuwun….

      Balas
  • Harsoyo

    Umat Rukun
    Indonesia Kuat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

♿ Aksesibilitas