Senin, Juni 1, 2026
Tak Berkategori

BUDAYA SYAWALAN: MERAYAKAN MODERASI BERAGAMA ALA NUSANTARA

Oleh : Wahyu Nurul Ilmiyati, S.Ag/ Penyuluh Agama Islam KUA Ngaglik

Setelah Idul fitri usai, masyarakat Indonesia memiliki tradisi khas yang tidak dimiliki bangsa lain: Syawalan. Lebih dari sekadar halal bihalal, Syawalan adalah ruang perjumpaan sosial yang mempraktikkan moderasi beragama secara nyata. Ia menjadi bukti bahwa nilai-nilai agama dan kearifan lokal bisa berjalan beriringan menjaga Indonesia. Kementerian Agama merumuskan empat pilar moderasi beragama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Menariknya, keempat pilar itu hidup semua dalam tradisi Syawalan. Pertama, komitmen kebangsaan. Syawalan membuktikan bahwa silaturahmi bukan hanya milik satu agama. Di Yogyakarta, Ngaglik, hingga Ambon, undangan Syawalan tingkat RT, kelurahan sampai instansi disampaikan kepada seluruh warga tanpa melihat KTP agamanya. Umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu duduk satu meja makan bersama. Disini identitas sebagai warga negara didahulukan. Bhinneka Tunggal Ika bukan lagi slogan, tapi dipraktikkan lewat piring dan cangkir yang sama. Kedua, toleransi. Inti Syawalan adalah saling memaafkan dan jabat tangan. Dua hal ini bersifat universal untuk semua manusia. “Mohon maaf lahir dan batin” punya padanan dalam semua ajaran: pengampunan dalam Kristen, kshama dalam Hindu, khanti dalam Buddha, cinta damai dalam Konghucu. Begitu pula jabat tangan. Ia bahasa tubuh tanpa sekat. Ketika kiai berjabat tangan dengan pendeta, atau ibu-ibu Muslim bersalaman dengan tetangga Hindu di acara Syawalan, yang terjadi adalah pengakuan tulus bahwa kita sederajat sebagai manusia.Ketiga, anti-kekerasan.

Syawalan pada hakikatnya menebar kasih sayang atau rahmah. Nilai ini sejalan dengan ajaran pokok semua agama: “kasihilah sesamamu” dalam Kristen dan Katolik, Tat Twam Asi dan Tri Hita Karana dalam Hindu, Metta atau cinta kasih universal dalam Buddha, serta Ren atau perikemanusiaan dalam Konghucu. Di Maluku, Syawalan menjadi momentum rekonsiliasi pasca-konflik. Kampung Muslim dan Kristiani saling berkunjung, diawali jabat tangan sebagai tanda memulai lembaran baru. Kasih sayang menggantikan curiga. Ini bukti bahwa moderasi paling efektif jika dipraktikkan, bukan hanya dikhotbahkan. Keempat, akomodatif terhadap budaya lokal. Syawalan sendiri lahir dari perkawinan antara ajaran Islam tentang silaturahmi pasca-Ramadan dengan budaya gotong royong Nusantara.

Bancaan Syawalan di kampung, Syawalan Keraton, atau Syawalan instansi yang mengundang tokoh lintas agama menunjukkan bahwa beragama tidak harus tercerabut dari akar budaya. Justru lewat budaya, pesan agama tentang persaudaraan lebih mudah diterima dan mencegah eksklusivisme. Indonesia sering disebut laboratorium kerukunan dunia. Tapi kerukunan tidak jatuh dari langit. Ia dirawat dari akar rumput lewat tradisi seperti Syawalan. Didalamnya ada komitmen kebangsaan lewat silaturahmi lintas iman, toleransi lewat jabat tangan, anti-kekerasan lewat kasih sayang, dan kelenturan budaya yang merangkul. Karena itu, melestarikan Syawalan berarti merawat moderasi beragama. Tugas kita bukan hanya datang, makan dan foto. Tapi memastikan nilai-nilai di baliknya terus hidup, bahwa tetangga beda agama tetap saudara, bahwa memaafkan itu kemanusiaan, dan bahwa jabat tangan lebih kuat dari ujaran kebencian. Syawalan mengingatkan kita pada satu hal sederhana, sebelum ada sekat agama kita semua adalah manusia. Dan sebagai manusia, kodrat kita adalah menyambung, bukan memutus

Setelah ceramah selain jabat tangan, apalagi contoh sikap toleransi yang bisa kita praktikkan ke tetangga beda agama saat Syawalan? Di kampung Bapak dan Ibu tradisi Syawalan apa yang paling bikin rukun? Gimana caranya kita ngajarin anak muda bahwa kasih sayang itu ajaran semua agama? Inilah tantangan kita sebagai seorang penyuluh Agama Islam dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat luas dengan tradisi syawalan dapat kita raih kerukunan dalam keluarga, tetangga, warga bahkan antar umat beragama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

♿ Aksesibilitas