Kemenag Sleman News— Dalam semangat Sleman Religi, masjid tidak sekadar dibuat ramai, tetapi dihidupkan melalui tata kelola yang baik, pemberdayaan umat, keterlibatan generasi muda, dan kehadiran pesantren di tengah masyarakat. Gagasan tersebut mengemuka dalam Sinkronisasi Program Layanan Keagamaan yang dipimpin Kasi Bimas Islam H. Sangaji, bersama Kasi Bimas Islam, Plt Kasi PD Pontren, Penyelenggara Zakat dan Wakaf (Zawa), serta jajaran pegawai tiga seksi di Smartroom Kankemenag Sleman, Kamis (24/9/2026).

Dalam arahannya Kepala Kantor H. Nadhif mendorong setiap kapanewon memiliki prototype masjid yang dapat menjadi contoh bagi masjid lainnya. Pembinaan dilakukan melalui piloting bersama dengan memperkuat tiga aspek pengelolaan masjid, yaitu idaroh, imaroh, dan riayah.

“Setiap kapanewon kita harapkan memiliki prototype masjid yang bisa menjadi contoh bagi masjid yang lain,” ujarnya

Untuk mewujudkannya, tiga seksi didorong menyatukan program dalam satu gerak. Zawa melalui zakat dan wakaf uang, Bimas Islam lewat Gen Z Memakmurkan Masjid, serta PD Pontren melalui Pesantren Mengabdi. Nadhif berharap pada triwulan akhir sudah terlihat progres nyata dari kolaborasi tersebut.

Khusus Pesantren Mengabdi, santri dapat dilibatkan untuk membina masjid dan masyarakat di sekitar pondok. “Pesantren datang di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Sementara Gen Z Memakmurkan Masjid diarahkan dimulai dari hal sederhana. Generasi muda dibina sekaligus diberi ruang untuk belajar mengelola kegiatan masjid sesuai kemampuannya.

Dalam forum tersebut, Kasi Bimas Islam, Sangaji, menyampaikan sejumlah program yang memiliki irisan kuat dengan layanan KUA, terutama Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ), dan Pesantren Mengabdi. Peran penyuluh agama juga dapat diperkuat dalam pengembangan MDT dan LPQ yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Sinkronisasi turut membahas layanan KUA, termasuk mekanisme permohonan pendirian LPQ serta rekomendasi Kepala KUA untuk pendirian MDT dan pondok pesantren.

Melalui kolaborasi lintas seksi, Kemenag Sleman mendorong program keagamaan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dan hadir menjawab kebutuhan masyarakat.

Dari masjid, pesantren, generasi muda, hingga zakat dan wakaf, Sleman Religi diarahkan menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan layanan keagamaan yang semakin dekat, memberdayakan, dan berdampak. (isa)