Kankemenag Sleman News (Humas)- Pelaksanaan Test Baca Al-Qur’an (TBQ) di wilayah KUA Seyegan tidak hanya diarahkan untuk mengetahui kemampuan anak dalam membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu, program ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut diutarakan saat kunjungan ke KUA Seyegan, oleh Plt. KUA setempat, Tri Wahyuni,S.Pd.,M.S.I menyampaikan bahwa tujuan TBQ bukan sekadar mengubah anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an menjadi bisa. Yang lebih penting adalah bagaimana anak mulai mencintai Al-Qur’an, dekat dengannya, dan terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an.

"Minat sekolah terhadap program ini cukup tinggi. Banyak permintaan yang masuk, meskipun belum semuanya dapat dilayani karena jumlah penyuluh terbatas dan masing-masing memiliki banyak binaan. Wisuda TBQ yang direncanakan pada akhir Oktober menjadi salah satu bentuk apresiasi bagi anak-anak yang mengikuti proses pembelajaran. Namun, wisuda bukan menjadi ukuran utama keberhasilan program," ujar Tri Wahyuni.

Lebih lanjut Tri Wahyuni menyampaikan bahwa, keberhasilan TBQ justru terlihat dari kebiasaan anak setelahnya. Apakah mereka tetap membaca Al-Qur’an, semakin mencintainya, dan bahkan mau mengajak atau mengajari teman-temannya. Karena karakter generasi sekarang berbeda dengan generasi sebelumnya, cara mengajarkan Al-Qur’an juga perlu terus diperbarui.

Semangat tersebut kemudian terlihat dalam praktik di SD Negeri  Ngino 1. Sebanyak 32 siswa dari dua jenjang mengikuti TBQ dan menunjukkan antusiasme yang tinggi. Kehadiran penyuluh Agama  Kemenag Sleman bahkan selalu ditunggu oleh para siswa.

Salah satu gagasan yang disampaikan Tri Wahyuni adalah bagaimana program tetap bisa berjalan meskipun tidak memiliki anggaran. Siswa yang sudah mampu membaca Al-Qur’an dapat dilibatkan untuk mengajari teman-temannya. Cara sederhana ini bukan hanya untuk menularkan kebaikan, tetapi juga melatih anak menjadi pemimpin melalui kemampuan berbagi ilmu dan mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain.

Sementara itu, di SD Negeri Ngemplaksari, pembinaan agama dilakukan secara bertahap sesuai usia. Tri Wahyuni selaku Plt. KUA Seyegan, kelas 1 difokuskan pada pengenalan huruf hijaiyah, sedangkan kelas 2 mulai belajar shalat.

Sekolah juga mengembangkan konsep semi full day agar kegiatan keagamaan mendapatkan porsi yang lebih kuat. Salah satunya melalui kegiatan Griya Winasis, termasuk pembacaan Asmaul Husna yang dapat dilakukan tanpa anggaran khusus.

Dari KUA hingga sekolah, terlihat bahwa membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an tidak selalu harus dimulai dengan program yang besar. Bisa dimulai dari hal sederhana: membiasakan membaca, mengajarkan kepada teman, menghidupkan kegiatan agama di sekolah, dan memberi ruang kepada anak untuk menjadi penggerak. Harapannya, TBQ tidak berhenti pada kemampuan membaca atau sekadar wisuda, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan anak. (ars/dpj)