Kemenag Sleman News—Pendidikan karakter tidak cukup dibangun di ruang kelas. Ia tumbuh dari pembiasaan dan lingkungan yang mendukung. Hal tersebut menjadi perhatian Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman saat menjalankan Program “Pengawas Goes Pesantren” di Pondok Pesantren Afkaaruna, Pelem, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Jumat (2/10/2026).

Pengawas Madrasah, Zumaroh Nazulaningsih dan Asih Budiati, melihat langsung integrasi pendidikan madrasah dan pesantren di Afkaaruna. Pesantren yang berdiri sejak 2016 di bawah Yayasan Abdul Djalil Sibaweh dengan pendiri utama KH Dr. Samsul Maarif Mujiharto ini menaungi RA, MI, MTs, dan MA.

“Yang menarik, pendidikan di sini tidak berjalan sendiri-sendiri. Madrasah dan pesantren saling menguatkan, terutama dalam pembentukan karakter dan kemandirian santri,” ujar Zumaroh.

Integrasi tersebut diwujudkan melalui pembelajaran yang terhubung dengan kehidupan pesantren. Salah satunya pembiasaan Bahasa Inggris secara fasih dan interaktif, baik dalam pembelajaran maupun komunikasi sehari-hari.

Afkaaruna juga menerapkan program “Madrasah dan Pesantren Ramah Anak”. Melalui Buku Panduan Santri, peserta didik dikenalkan dengan disiplin positif dan konsekuensi atas perilaku yang tidak sesuai kesepakatan. Setiap malam, santri juga mengikuti “Musyrif Time” sebagai ruang refleksi, berbagi cerita, dan menyelesaikan persoalan bersama pendamping.

Budaya saling menghargai diperkuat dengan kebiasaan memanggil santri yang lebih tua dengan sebutan Mas atau Mbak, sedangkan yang lebih muda dipanggil Adik atau Dik. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi sekat senioritas dan membangun kedekatan antarsantri.

Lurah Pondok Afkaaruna, Amelia Intan, mengatakan pendampingan dilakukan dengan membangun komunikasi yang dekat dengan santri.

“Kami ingin santri punya ruang untuk bercerita. Musyrif Time menjadi kesempatan untuk mendengar, merefleksikan kegiatan, dan menyelesaikan persoalan bersama,” ujarnya.

Menurut Zumaroh, kunjungan tersebut menjadi ruang untuk melihat sekaligus belajar dari praktik baik yang dikembangkan pesantren.

“Setiap pesantren tentu punya kekhasan. Yang penting, kekhasan itu mampu menjadi kekuatan dalam mendidik dan mendampingi anak-anak,” pungkasnya.

Program “Pengawas Goes Pesantren” diharapkan terus menjadi ruang silaturahim, berbagi praktik baik, dan memperkuat kualitas pendidikan madrasah serta pesantren di Kabupaten Sleman. (isa/de)