Kemenag Sleman News – Dukungan terhadap penguatan tradisi keilmuan pesantren dan pembinaan generasi Qurani ditunjukkan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman melalui kehadiran Kepala Kantor Kemenag Sleman, H. Nadhif bersama Kasubbag Tata Usaha dan jajaran dalam pembukaan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) dan Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) dalam rangka Semarak Hari Santri Nasional 2026 di Ahmad Syafii Academy, Pondok Pesantren Wahid Hasyim, Sleman, Minggu (25/10/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU DIY ini dibuka oleh Kepala Biro Kesra Setda DIY, Bapak Faishol Muslim, yang hadir mewakili Gubernur DIY. Ajang tersebut diikuti santri dari pondok pesantren se-Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan cabang MQK tingkat Ula, Wustha, dan Ulya serta MHQ Juz 30, 5, dan 10.

Kehadiran Kakankemenag Sleman beserta jajaran menjadi wujud dukungan kelembagaan terhadap kegiatan yang tidak hanya mengasah kemampuan santri dalam membaca dan memahami kitab kuning serta menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan Islam di lingkungan pesantren.

Dalam sambutannya, Sekda DIY Faisol Muslim menyampaikan apresiasi atas inisiatif RMI PWNU DIY dalam menyelenggarakan kompetisi tersebut. “Pemerintah Daerah DIY memberikan dukungan setinggi-tingginya kepada RMI atas penyelenggaraan kegiatan ini. MQK dan MHQ menjadi bagian penting dalam merawat khazanah keislaman klasik sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai agen penjaga moral bangsa,” ungkapnya.

Sementara itu, Kakankemenag Sleman H. Nadhif menyampaikan bahwa MQK dan MHQ merupakan ruang strategis untuk menumbuhkan kecintaan santri terhadap ilmu agama dan Al-Qur’an, sekaligus mendorong lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjawab tantangan zaman.

“Pesantren memiliki peran penting dalam menjaga warisan keilmuan Islam sekaligus membentuk karakter generasi bangsa. Melalui MQK dan MHQ, kita berharap para santri semakin mencintai kitab-kitab klasik, menguatkan hafalan Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Menurut Nadhif, sinergi antara pemerintah, Kementerian Agama, organisasi keagamaan, dan pesantren menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan keagamaan serta memperkuat kontribusi pesantren bagi masyarakat. Dukungan tersebut sejalan dengan komitmen Kemenag dalam menghadirkan layanan keagamaan dan pendidikan yang berdampak nyata.

Semarak Hari Santri Nasional 2026 melalui MQK dan MHQ diharapkan tidak berhenti sebagai ajang perlombaan, tetapi menjadi momentum memperkuat tradisi literasi keislaman, kecintaan terhadap Al-Qur’an, dan pembentukan karakter santri. Dari pesantren, ilmu diwariskan, akhlak ditumbuhkan, dan kontribusi bagi bangsa terus dilanjutkan.(isa)