Kemenag Sleman News — Membangun sekolah yang aman dan nyaman dimulai dari keberanian pelajar menghargai perbedaan, menolak perundungan, dan memilih jalan damai dalam pergaulan. Komitmen ini ditegaskan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman melalui partisipasi Plt. Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS), Tri Wahyuni, sebagai narasumber dalam kegiatan FKUB Sapa Pelajar yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman di SMP Negeri 3 Gamping, Selasa (27/10/2026) dan SMP Negeri 4 Pakem, Rabu (28/10/2026).
Mengusung tema “Pelajar Sleman Guyub Rukun, Damai Tanpa Kekerasan”, kegiatan ini melibatkan perwakilan siswa dan pengurus organisasi siswa dari berbagai SMP. Kemenag Sleman mengambil peran dalam menanamkan moderasi beragama, memperkuat toleransi, serta mendorong pelajar membangun budaya damai di lingkungan sekolah maupun ruang digital.
Dalam materi “Penguatan Moderasi Beragama bagi Pelajar dalam Mewujudkan Kerukunan dan Toleransi”, Tri Wahyuni menekankan bahwa masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan karakter. Karena itu, nilai menghargai perbedaan perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Pelajar keren bukan yang paling jago berdebat atau mengandalkan otot, melainkan mereka yang berani merangkul perbedaan, memutus rantai perundungan, dan menyebarkan kedamaian, baik di kelas maupun di media sosial,” pesannya.
Penyampaian materi berlangsung interaktif melalui permainan Reality Check: Mitos vs Fakta dan pengenalan prinsip Pelajar Moderat dari Kementerian Agama RI. Para peserta diajak memahami tiga nilai penting, yakni tasamuh atau toleransi untuk menghargai perbedaan, tawassuth atau sikap seimbang dalam menyikapi persoalan, serta al-la 'unf atau penolakan terhadap segala bentuk kekerasan, baik fisik, verbal maupun siber.
Pelajar juga diajak membiasakan prinsip saring sebelum sharing agar tidak mudah terpengaruh hoaks dan provokasi. Pesan yang ditekankan sederhana: gunakan akal untuk menyelesaikan masalah, bukan kekerasan untuk menunjukkan kekuatan.
Tak berhenti pada pemahaman, peserta diperkenalkan dengan alur aksi FIDS (Feel, Imagine, Do, Share) sebagai panduan merancang gerakan antiperundungan dan membangun lingkungan sekolah yang inklusif. Melalui pendekatan ini, pelajar didorong untuk mengenali persoalan di sekitarnya, merancang solusi, melakukan aksi, dan membagikan praktik baik kepada teman sebaya.
Kemenag Sleman berharap kegiatan ini melahirkan pelajar yang tidak hanya memahami pentingnya toleransi, tetapi juga berani menjadi pelopor perubahan. Semangat Guyub Rukun diharapkan tumbuh dalam keseharian, sehingga sekolah menjadi ruang belajar yang aman, ramah terhadap perbedaan, dan bebas dari kekerasan.
Sekolah damai tidak cukup dibangun melalui imbauan. Lingkungan yang aman dan nyaman tumbuh dari sikap setiap pelajar yang memilih menghargai, merangkul, dan menjaga satu sama lain. (isa/de)
Turut senang, kiranya Tuhan Allah senantiasa memberkati sehingga KUB semakin baik amin
Balas komentar