Kemenag Sleman News— Penguatan pendidikan agama menjadi bagian penting dalam membangun karakter sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah dasar negeri. Karena itu, sinergi Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan terus diperkuat melalui gerakan Sleman Religi, salah satunya Program Tuntas Baca Quran (TBQ), Selasa (22/9/2026).

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Nadhif, memonitor pelaksanaan TBQ di KUA Moyudan yang dilanjutkan ke SDN Ngijon 3 Sleman. Monitoring dilakukan untuk melihat pelaksanaan sekaligus mendengar langsung tantangan di lapangan. “Program Sleman Religi harus kita implementasikan bersama. Bukan hanya menjadi program kantor, tetapi menjadi gerakan yang hadir dan tumbuh di tengah masyarakat,” tegasnya.

Pelaksanaan TBQ menunjukkan perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa, meski belum signifikan. Di SDN Ngijon 3, lebih dari lima dari 19 siswa yang mengikuti pendampingan telah menunjukkan perkembangan. Namun, keterbatasan waktu karena TBQ hanya sekitar satu jam dalam sepekan dan pengaruh libur panjang menjadi tantangan. Plt Kasi PAIS, Tri Wahyuni, menegaskan pentingnya dukungan orang tua dan TPA agar pembiasaan membaca Al-Qur’an berlanjut di luar sekolah.

Nadhif menekankan, kedekatan anak dengan agama perlu dibangun sejak pendidikan dasar. Bagi siswa muslim, kemampuan membaca Al-Qur’an menjadi salah satu bekal penting setelah lulus SD. “Kalau hanya mengandalkan satu jam dalam seminggu, tentu berat. Karena itu orang tua harus ikut memberikan penguatan dan motivasi kepada anak,” ungkapnya. Tri Wahyuni juga mengusulkan siswa yang telah mampu membaca Al-Qur’an menjadi kader pendamping bagi teman-temannya, sekaligus menumbuhkan kepedulian antarsiswa.

Penguatan Sleman Religi dilakukan secara inklusif melalui berbagai pembiasaan keagamaan, seperti Asmaul Husna, hafalan, salat dhuha dan dhuhur, serta pembinaan sesuai keyakinan peserta didik, termasuk program BINAR bagi umat Katolik. Monitoring di KUA Moyudan juga membahas Gen Z Makmurkan Masjid (GZMM) yang mendorong generasi muda berperan aktif dalam menghidupkan dan mengelola kegiatan masjid melalui kolaborasi dengan PD Pontren dan Gara Zawa.

Dari KUA hingga sekolah, penguatan kehidupan keagamaan membutuhkan kolaborasi Kemenag, sekolah, guru, orang tua, TPA, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sleman Religi tidak cukup menjadi program, tetapi harus tumbuh menjadi gerakan bersama yang semakin dekat, nyata, inklusif, dan berdampak. (isa/de)